Analisis gen menghasilkan peta spasial sel usus

sel

Sel-sel dalam usus menjalankan berbagai peran termasuk penyerapan nutrisi, penginderaan, dan pemeliharaan homeostasis. Gangguan kronis tertentu secara khusus ditandai oleh peradangan usus, yang mengganggu sel-sel usus dan dapat menyebabkan perombakan usus dan pengenalan sel-sel imun baru. Untuk lebih memahami jenis-jenis sel dan posisinya dalam usus, para peneliti menggunakan teknik baru yang dikenal sebagai MERFISH (multiplexed-error robust-fluorescence in situ hybridization) untuk menganalisis 940 gen dalam 1,35 juta sel usus dalam model kolitis tikus.

Mereka mengidentifikasi populasi sel yang berhubungan dengan keadaan sehat dan meradang, memetakan lingkungan spasial mereka, dan menelusuri evolusi populasi ini selama proses peradangan.

Salah satu jenis sel penting yang perlu diperhatikan adalah fibroblas, yang saat dalam kondisi tertekan, dapat menginduksi fibroblas terkait peradangan (IAF), yang dapat membantu merombak matriks ekstraseluler, merekrut sel imun, dan menghasilkan sitokin inflamasi.

Namun, beberapa pertanyaan utama masih tetap ada, termasuk keragaman spesifik populasi IAF, lokasi jaringan tepatnya, dan bagaimana mereka muncul selama peradangan.

Meskipun demikian, para peneliti mampu menghasilkan atlas spasial yang unik dari usus besar tikus baik dalam keadaan sehat, maupun selama peradangan usus, yang berpotensi membantu pengobatan terapeutik untuk penyakit peradangan kronis.

Dalam penelitian sebelumnya, IAF telah diamati dalam berbagai penyakit, termasuk kanker dan penyakit autoimun, sehingga memahami peran dan mekanisme IAF dapat membantu pengembangan pengobatan untuk penyakit lainnya ini.

“Tim kami ingin lebih memahami bagaimana sel-sel terorganisasi dalam usus, dan bagaimana peradangan dapat memengaruhi interaksi dan komunikasi seluler pada skala jaringan,” kata penulis senior Roni Nowarski, PhD, dari Departemen Neurologi Brigham dan Departemen Imunologi Harvard Medical School. “Pekerjaan ini sangat menarik dan telah memberi kami pemahaman yang lebih baik tentang konteks jaringan respons seluler selama peradangan, yang kami harap akan membantu kami merancang terapi yang lebih baik untuk melawan penyakit peradangan kronis yang serius.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *