Perubahan mikrobioma usus dikaitkan dengan timbulnya artritis reumatoid di antara individu yang berisiko

mikrobioma usus

Dalam sebuah studi terkini yang diterbitkan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases , para peneliti dari Inggris meneliti perubahan mikrobioma usus pada individu yang berisiko tinggi terkena artritis reumatoid. Dengan membandingkan profil bakteri usus antara individu yang akhirnya terkena artritis reumatoid dan mereka yang tidak, para peneliti bertujuan untuk mengidentifikasi indikator mikroba yang dapat menandakan perkembangan penyakit dini.

Latar belakang

Artritis reumatoid adalah penyakit autoimun kronis yang terutama menyerang sendi dan terkadang organ lain. Meskipun penyebab pastinya masih belum jelas, timbulnya artritis reumatoid diyakini melibatkan respons imun yang dipicu oleh faktor lingkungan dan genetik. Penelitian telah menemukan bahwa antibodi yang menargetkan protein yang dimodifikasi dengan cara tertentu sering kali muncul sebelum timbulnya gejala, yang mengisyaratkan aktivasi kekebalan dini sebelum penyakit.

Lebih jauh lagi, merokok dan penyakit gusi dikaitkan dengan artritis reumatoid, yang selanjutnya menunjukkan bahwa peradangan lokal di lokasi mukosa, seperti paru-paru atau mulut, dapat memicu respons imun terkait penyakit. Bukti dari berbagai penelitian juga menunjukkan peran potensial mikrobioma usus dalam perkembangan artritis reumatoid. Sementara kelompok bakteri tertentu, seperti spesies Prevotella , telah dikaitkan dengan artritis reumatoid, temuan dari berbagai penelitian tentang hubungan mikroba ini saling bertentangan.

Tentang penelitian ini

Studi saat ini meneliti perubahan mikroba usus pada orang yang berisiko terkena artritis reumatoid, dengan fokus pada keragaman dan stabilitas bakteri usus dari waktu ke waktu untuk mengidentifikasi tanda-tanda mikroba yang konsisten terkait dengan perkembangan penyakit. Para peneliti menggunakan kombinasi desain cross-sectional dan longitudinal untuk menganalisis perubahan mikrobioma usus pada individu yang berisiko terkena artritis reumatoid.

Pesertanya meliputi individu dengan antibodi anti-cyclic citrullinated peptide (CCP), yang merupakan penanda risiko artritis reumatoid. Penelitian ini juga meliputi peserta yang mengalami nyeri muskuloskeletal tanpa artritis klinis, pasien yang baru saja didiagnosis artritis reumatoid, dan kelompok kontrol yang sehat. Para peneliti merekrut individu dengan latar belakang dan faktor yang beragam seperti pola makan, gaya hidup, dan kebiasaan buang air besar.

Setiap peserta memberikan sampel tinja, dan data tentang faktor demografi, kadar antibodi, dan faktor gaya hidup dikumpulkan. Sampel tinja dianalisis untuk mengetahui keragaman dan komposisi bakteri menggunakan dua pendekatan sekuensing asam deoksiribonukleat (DNA). Sekuensing amplikon asam ribonukleat (rRNA) ribosomal 16S menargetkan gen bakteri tertentu untuk klasifikasi taksonomi yang luas, sementara sekuensing metagenomik shotgun dilakukan untuk memperoleh wawasan yang lebih rinci tentang galur bakteri dan gen fungsional.

Para peneliti juga melakukan analisis keanekaragaman untuk membandingkan kekayaan bakteri di antara kelompok peserta, dengan fokus pada keanekaragaman alfa, yang menilai keanekaragaman spesies dalam sampel, dan keanekaragaman beta, yang membandingkan keanekaragaman spesies di antara sampel. Berbagai analisis statistik kemudian digunakan untuk mengidentifikasi taksa bakteri yang terkait dengan perkembangan artritis reumatoid.

Model linier efek campuran diterapkan untuk menangkap perubahan bakteri usus di berbagai titik waktu untuk setiap peserta sambil menyesuaikan variabel demografi dan kadar antibodi. Selain itu, perbandingan juga dilakukan untuk menilai stabilitas mikroba dari waktu ke waktu, khususnya dalam 10 bulan sejak timbulnya artritis reumatoid. Lebih jauh, variabilitas dalam mikrobioma usus dianalisis untuk melacak pergeseran komposisi bakteri sebelum timbulnya penyakit, mengidentifikasi penanda mikroba potensial yang terkait dengan perkembangan artritis reumatoid.

Hasil

Studi tersebut menemukan bahwa profil mikrobioma usus berbeda secara signifikan antara individu yang akhirnya mengembangkan artritis reumatoid dan mereka yang tidak. Pada awal, individu anti-CCP-positif yang berisiko terkena artritis reumatoid memiliki keragaman mikrobioma usus yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol yang sehat.

Lebih jauh lagi, mereka yang akhirnya terserang artritis reumatoid menunjukkan perubahan yang lebih besar dalam keanekaragaman mikroba, dan mikrobioma usus mereka diamati menjadi kurang stabil dalam waktu 10 bulan sebelum gejala klinis artritis reumatoid muncul.

Studi tersebut mengungkap bahwa galur tertentu dalam famili Prevotellaceae lebih banyak ditemukan pada individu yang akhirnya terserang artritis reumatoid, sementara galur lainnya kurang umum, yang menunjukkan bahwa spesies Prevotella memainkan peran kompleks dalam artritis reumatoid. Individu yang akhirnya terserang artritis reumatoid menunjukkan akumulasi bakteri usus tertentu, termasuk bakteri dari famili Prevotellaceae, dalam beberapa bulan setelah timbul gejala.

Lebih jauh lagi, temuan tersebut menyoroti peningkatan jalur terkait metabolisme asam amino dan energi di antara individu yang mengembangkan artritis reumatoid, yang menunjukkan bahwa pergeseran metabolisme menyertai perubahan mikrobioma yang dikaitkan dengan artritis reumatoid.

Selain itu, analisis longitudinal menunjukkan bahwa keragaman mikroba usus menurun secara progresif saat individu mendekati timbulnya artritis reumatoid. Para peneliti melakukan analisis stabilitas, yang menemukan bahwa mikrobioma menjadi semakin tidak stabil dan tidak teratur pada mereka yang hampir mengalami artritis reumatoid, yang menunjukkan bahwa pergeseran mikroba ini bisa jadi merupakan tanda klinis awal artritis reumatoid.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan spesifik dalam komposisi dan keanekaragaman mikrobioma usus, terutama di antara individu yang positif anti-CCP, dapat menjadi indikator awal meningkatnya risiko artritis reumatoid.

Pergeseran mikroba yang diamati dapat dianggap sebagai penanda potensial untuk artritis reumatoid dini. Temuan ini juga mendukung perlunya eksplorasi lebih lanjut terhadap bakteri usus sebagai alat untuk memprediksi dan mencegah artritis reumatoid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *