Dalam studi terkini yang diterbitkan dalam Nutrients , para peneliti meneliti kaitan antara konsumsi makanan ultra-olahan di kalangan remaja dan anak-anak obesitas dengan kejadian gangguan metabolik seperti resistensi insulin, penyakit hati steatotik terkait metabolik atau MASLD, dan obesitas, dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan pedoman diet.
Latar belakang
Makanan ultra-olahan, yang terbuat dari bahan-bahan yang disintesis dan diproses secara berlebihan seperti gula, minyak, dan pati yang dimodifikasi, menjadi sangat populer di seluruh dunia karena masa simpannya yang panjang dan kebutuhan persiapan yang rendah.
Namun, sebagian besar makanan olahan memiliki kandungan nutrisi yang sangat rendah, seperti serat dan vitamin. Makanan tersebut sering kali mengandung banyak lemak, gula, dan garam yang tidak sehat, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang perannya dalam memicu gangguan metabolisme dan obesitas.
Penelitian telah menemukan bahwa makanan olahan dapat menyebabkan resistensi insulin dan peradangan serta berpotensi menyebabkan MASLD. Meskipun makanan olahan sangat umum dalam pola makan Barat, Asia baru-baru ini mengalami peningkatan konsumsi makanan olahan, terutama di kalangan anak-anak.
Lebih jauh lagi, kaitan antara konsumsi makanan ultra-olahan dan obesitas pada masa kanak-kanak telah menimbulkan kekhawatiran besar karena dikaitkan dengan perkembangan awal penyakit kardiovaskular.
Namun, meskipun hubungan antara konsumsi makanan ultra-olahan dan gangguan metabolisme di kalangan orang dewasa telah dieksplorasi dengan baik, dampak makanan tersebut terhadap kesehatan anak-anak masih belum jelas, terutama di negara-negara Asia.
Tentang penelitian ini
Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara konsumsi makanan ultra-olahan di kalangan remaja dan anak-anak obesitas di Asia dan perkembangan gangguan metabolisme seperti MASLD.
Para peneliti menggunakan data dari sebuah studi yang dilakukan antara tahun 2019 dan 2020 oleh sebuah rumah sakit universitas di Republik Korea tentang intervensi nutrisi dan aktivitas untuk obesitas anak.
Mereka mencakup remaja dan anak-anak berusia antara delapan dan 17 tahun dengan indeks massa tubuh (IMT) lebih besar atau sama dengan persentil ke- 85 . Setelah mengecualikan peserta yang menggunakan obat-obatan yang dapat memengaruhi berat badan mereka, populasi studi akhir terdiri dari 149 peserta.
Pengasuh semua peserta diharuskan untuk melengkapi buku harian makanan di awal dan selama masa tindak lanjut, yang terdiri dari catatan semua makanan dan minuman yang dikonsumsi selama periode dua hingga lima hari.
Catatan tersebut dianalisis untuk menilai asupan gizi, dan makanan dikategorikan menggunakan sistem klasifikasi yang ditetapkan berdasarkan tingkat pemrosesan.
Berbagai pengukuran antropometri diperoleh dari peserta menggunakan absorptiometri sinar-X energi ganda, termasuk massa lemak tubuh dan total, indeks massa lemak atau FMI, persentase lemak tubuh, dan massa ramping. Analisis impedansi bioelektrik digunakan untuk mengukur berat badan.
Selain itu, penelitian ini mengumpulkan sampel darah setelah 10 jam puasa untuk menilai profil lipid, yang mencakup kadar lipoprotein densitas rendah dan tinggi (LDL dan HDL), serta kadar kolesterol total dan trigliserida.
Kadar enzim hati seperti alanine transaminase (ALT), aspartate transaminase (AST), gamma-glutamyltransferase (γ-GT), dan kadar glukosa juga diukur. Imunoassay elektrokhemiluminesensi digunakan untuk menentukan kadar insulin puasa.
Selanjutnya, fraksi lemak densitas proton pencitraan resonansi magnetik atau MRI-PDFF digunakan untuk mengukur persentase lemak hati. Jika persentase lemak hati melebihi 5%, peserta didiagnosis dengan MASLD.
Hasil
Studi tersebut menemukan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra-olahan pada remaja dan anak-anak yang mengalami obesitas dikaitkan dengan masalah kesehatan hati dan gangguan metabolisme yang signifikan.
Konsumsi makanan ultra-olahan yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan kadar insulin, resistensi insulin, dan prevalensi MASLD yang tinggi. Yang mengejutkan, konsumsi makanan ultra-olahan juga dikaitkan dengan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL yang lebih rendah.
Peserta yang konsumsi makanan ultra-olahannya termasuk dalam tertile tertinggi memiliki asupan energi keseluruhan yang lebih tinggi tetapi asupan seratnya rendah.
Lebih jauh lagi, mereka mengonsumsi karbohidrat dalam kadar yang lebih rendah, serta asam lemak tak jenuh ganda, tak jenuh tunggal, dan jenuh, dan memperoleh sebagian besar energi mereka dari lemak total. Para peneliti percaya bahwa kadar kolesterol LDL dan kolesterol total yang rendah meskipun asupan kalorinya tinggi dapat disebabkan oleh rendahnya kadar asam lemak jenuh dalam makanan.
Temuan tersebut juga melaporkan bahwa peningkatan 10% dalam konsumsi makanan ultra-olahan mengakibatkan peningkatan 37% dalam kemungkinan MASLD sedang hingga parah, dan 30% kemungkinan lebih tinggi untuk mengembangkan resistensi insulin.
Kandungan gula rafinasi dan lemak trans yang tinggi, kandungan serat yang rendah, dan bahan tambahan industri yang memperpanjang masa simpan makanan ultra-olahan cenderung menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra-olahan di kalangan remaja dan anak-anak yang mengalami obesitas secara signifikan meningkatkan prevalensi gangguan metabolisme dan resistensi insulin, serta menimbulkan risiko tinggi MASLD sedang hingga parah.
Para peneliti yakin bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme bagaimana makanan ultra-olahan memengaruhi kesehatan metabolisme dan hati.
