Latar belakang
Populasi global menua dengan cepat, dengan proyeksi yang menunjukkan bahwa pada tahun 2030, satu dari enam orang akan berusia 60 tahun atau lebih, yang merupakan pergeseran demografi yang signifikan dan meningkat menjadi 2,1 miliar pada tahun 2050. Laju penuaan populasi yang semakin cepat ini menghadirkan tantangan yang kompleks, khususnya dalam cara mendefinisikan penuaan di berbagai wilayah dan budaya. Selain itu, kebutuhan akan dukungan yang disesuaikan tumbuh seiring populasi yang lebih tua semakin beragam di berbagai wilayah. Pemahaman yang lebih komprehensif tentang berbagai perubahan biologis, sosial, dan psikologis sangat penting untuk pembuatan kebijakan yang efektif. Penelitian lebih lanjut sangat penting untuk memahami kompleksitas ini dan menginformasikan kebijakan yang efektif yang menangani kebutuhan unik dari demografi yang terus berkembang ini.
Populasi yang Menua
Penuaan populasi global semakin cepat, dengan laporan WHO tahun 2022 memproyeksikan bahwa pada tahun 2030, satu dari enam orang akan berusia 60 tahun atau lebih, meningkat dari 1 miliar pada tahun 2020 menjadi 1,4 miliar. Pada tahun 2050, jumlah ini diperkirakan akan berlipat ganda menjadi 2,1 miliar, dengan mereka yang berusia 80 tahun ke atas meningkat tiga kali lipat menjadi 426 juta. Penuaan melibatkan perubahan biologis, sosial, dan psikologis yang kompleks yang terjadi pada tingkat yang berbeda untuk setiap individu, yang menghasilkan populasi yang lebih tua yang sangat beragam. Definisi “orang yang lebih tua” berbeda secara global; sementara WHO dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikannya sebagai lebih dari 60, beberapa negara, seperti Inggris, secara tradisional menggunakan 65, beradaptasi seiring dengan peningkatan harapan hidup. Perbedaan ini semakin penting karena kebutuhan individu di atas 65 dapat bervariasi secara signifikan tergantung pada kemampuan fungsional mereka.
Memahami Proses Penuaan
Penuaan populasi sering kali dianggap sebagai tanda peningkatan kesehatan dan umur panjang. Negara-negara seperti Jepang, yang memiliki sebagian besar penduduk berusia 60 tahun ke atas, menggambarkan tren ini. Pada tahun 2050, diantisipasi bahwa Asia Timur dan Asia Tenggara akan terus menampung bagian terbesar dari orang dewasa yang lebih tua yaitu 37%, sementara Eropa dan Amerika Utara akan mengalami penurunan proporsi dari 29% menjadi 19%. Distribusi global populasi yang menua menghadirkan tantangan unik bagi sistem perawatan kesehatan regional, khususnya di negara-negara dengan rasio dukungan potensial yang rendah.
Rasio dukungan potensial, yang didefinisikan sebagai jumlah orang dewasa usia kerja (25-64 tahun) per orang dewasa yang lebih tua (65+), menyoroti implikasi dari populasi yang menua. Pada tahun 2050, banyak negara, khususnya di Eropa dan Asia, akan mengalami rasio dukungan di bawah dua, yang menunjukkan beban yang semakin besar pada sistem perawatan kesehatan dan sosial. Tren ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan strategi kesehatan masyarakat yang inovatif untuk mengelola populasi yang menua.
Menangani Diskriminasi Usia dan Keberagaman dalam Penuaan
Seiring bertambahnya usia penduduk, stereotip negatif, yang sering disebut “ageisme,” muncul, yang menganggap orang dewasa yang lebih tua sebagai beban bagi masyarakat. Namun, terdapat keragaman yang cukup besar di antara orang dewasa yang lebih tua. WHO mendefinisikan ageisme sebagai termasuk stereotip, prasangka, dan diskriminasi berdasarkan usia, dengan implikasi global bagi populasi yang lebih tua dan lebih muda. Di Eropa, individu yang lebih muda melaporkan mengalami lebih banyak diskriminasi usia daripada orang dewasa yang lebih tua. Ageisme juga bersinggungan dengan bentuk-bentuk kerugian lainnya, seperti yang terkait dengan gender, ras, dan disabilitas, yang semakin memperburuk ketidaksetaraan.
Di Inggris, populasi lansia terus meningkat, dengan jumlah mereka yang berusia 65 tahun ke atas meningkat dari 16,4% pada tahun 2011 menjadi 18,6% pada tahun 2021. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2066, satu dari empat orang di Inggris akan berusia di atas 65 tahun. Meskipun harapan hidup telah membaik, harapan hidup bebas disabilitas (DFLE) masih menjadi perhatian. Harapan hidup bebas disabilitas (DFLE) untuk pria adalah sekitar 9,9 tahun, dan untuk wanita, sekitar 9,8 tahun setelah usia 65 tahun, yang menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa yang lebih tua mungkin hidup dengan masalah kesehatan.
Dekade Penuaan Sehat
Dekade Penuaan Sehat PBB bertujuan untuk mengatasi tantangan penuaan populasi melalui tindakan kolektif dalam empat bidang: memerangi diskriminasi usia, mendukung masyarakat untuk orang dewasa yang lebih tua, menyediakan perawatan terpadu dan berpusat pada orang, dan memastikan akses ke perawatan jangka panjang yang berkualitas. Penuaan yang sehat berfokus pada pemeliharaan kemampuan fungsional untuk kesejahteraan, mengkategorikan orang dewasa yang lebih tua sebagai orang yang mandiri secara fungsional, lemah, atau tergantung. Dua komponen utama memengaruhi penuaan: kapasitas intrinsik, yang meliputi kesehatan fisik dan mental, dan faktor lingkungan, yang meliputi dukungan sosial dan masyarakat. Bersama-sama, elemen-elemen ini menentukan kemampuan orang dewasa yang lebih tua untuk berfungsi secara efektif dan menjalani kehidupan yang memuaskan.
Hubungan Antara Kesehatan Mulut dan Penuaan
Penurunan kesehatan mulut merupakan masalah yang signifikan bagi orang dewasa yang lebih tua, dengan tingkat penyakit gigi yang tinggi yang umum terjadi pada kelompok demografi ini. Studi Beban Penyakit Global menempatkan gangguan mulut sebagai penyebab utama tahun-tahun kehidupan yang disesuaikan dengan disabilitas (DALY) secara global, yang memengaruhi jutaan orang dewasa yang lebih tua. Perkiraan terkini menunjukkan bahwa kondisi gigi yang tidak dirawat memengaruhi lebih dari 57% orang dewasa yang lebih tua. Secara khusus, karies akar, yang sering tidak dirawat, menimbulkan beban yang signifikan, terutama di lingkungan institusional.
Masalah kesehatan mulut, terutama karies gigi dan penyakit periodontal, berdampak signifikan terhadap kualitas hidup orang lanjut usia. Meskipun ada kepercayaan umum bahwa kehilangan gigi merupakan bagian normal dari penuaan, proses penuaan itu sendiri bukanlah faktor risiko independen untuk penurunan kesehatan mulut. Sebaliknya, kondisi sistemik, pengobatan, dan akses ke perawatan gigi berperan penting dalam hasil kesehatan mulut.
Kondisi Jangka Panjang dan Kesehatan Mulut
Hubungan antara kesehatan umum dan kesehatan mulut semakin diakui sebagai hubungan dua arah, dengan kesehatan mulut yang buruk memperburuk kondisi kronis seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan gangguan pernapasan. Misalnya, kebersihan mulut yang buruk dapat meningkatkan risiko pneumonia pada populasi yang lemah, sementara penyakit periodontal dapat memperburuk manajemen diabetes. Studi terbaru juga menyoroti hubungan antara penurunan kognitif dan kesehatan mulut yang memburuk, dengan pasien demensia menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mengakses perawatan.
Lebih jauh lagi, nutrisi sangat terkait erat dengan kesehatan mulut. Orang dewasa yang lebih tua dengan gigi yang rusak mungkin kesulitan mendapatkan nutrisi yang tepat, yang menyebabkan siklus penurunan kesehatan. Sebaliknya, nutrisi yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit gigi, yang menyoroti perlunya pendekatan kesehatan terpadu yang mempertimbangkan kesehatan mulut dan kesehatan umum.
Studi Kasus: Kesehatan Mulut di Inggris
Di Inggris, data epidemiologi mengungkapkan bahwa jumlah orang dewasa yang lebih tua yang mempertahankan gigi asli mereka meningkat. Misalnya, 53% orang dewasa berusia 85 tahun ke atas melaporkan memiliki beberapa gigi mereka sendiri. Pergeseran ini menunjukkan populasi yang terus bertambah yang dapat memperoleh manfaat dari strategi kesehatan mulut preventif. Meskipun demikian, kesenjangan tetap ada, terutama bagi mereka yang tinggal di panti jompo, di mana tingkat edentulisme dan kondisi gigi yang tidak dirawat jauh lebih tinggi. Kebijakan saat ini di Inggris, terutama di Skotlandia dan Wales, menekankan perlunya peningkatan kesehatan mulut di antara populasi yang lebih tua, sementara situasi di Inggris tertinggal.
Rekomendasi Kebijakan untuk Penuaan Sehat dan Kesehatan Mulut
Pendekatan kebijakan yang beragam sangat penting untuk mempromosikan penuaan yang sehat dan kesehatan mulut. Pendekatan ini harus mencakup strategi pencegahan dini sepanjang hidup, pelatihan yang lebih baik untuk staf perawatan, dan integrasi yang lebih baik antara sistem perawatan kesehatan dan sosial. Strategi pencegahan seperti perawatan fluoride, perawatan kesehatan dan sosial yang terpadu, dan akses yang lebih baik ke layanan gigi, terutama untuk populasi lanjut usia yang rentan, sangat penting.
Kesimpulan
Singkatnya, penuaan yang sehat merupakan isu global yang kritis, yang memerlukan perhatian mendesak terhadap dampak populasi yang menua terhadap kesehatan mulut dan sistem perawatan kesehatan. Upaya untuk memadukan kesehatan mulut dengan kebijakan perawatan kesehatan yang lebih luas akan sangat penting dalam memastikan bahwa orang dewasa yang lebih tua dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan lebih memuaskan. Layanan yang efektif, berpusat pada pasien, dan berfokus pada pencegahan sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup, mengatasi hubungan antara kesehatan mulut dan kesehatan umum, dan memprioritaskan kesehatan mulut dalam kebijakan dan penelitian.
