Bagaimana kesehatan jantung yang lebih baik melawan demensia

kesehatan

Dalam tinjauan terkini yang diterbitkan dalam jurnal Stroke, sekelompok penulis mengeksplorasi mekanisme yang menghubungkan penyakit jantung umum dengan gangguan kognitif dan menyoroti potensi untuk mengurangi risiko neurologis dengan meningkatkan kesehatan kardiovaskular.

Latar belakang

Jantung dan otak saling terkait erat, jantung menyediakan oksigen dan nutrisi penting bagi otak, sementara otak mengendalikan fungsi jantung melalui sistem saraf otonom . Hubungan ini juga dipengaruhi oleh mekanisme kompleks seperti aktivasi neurohormonal dan peradangan sistemik , yang keduanya dapat mempercepat penurunan kognitif jika terjadi penyakit jantung.

Studi mengungkap bahwa kondisi jantung yang buruk, seperti peningkatan ketebalan dinding ventrikel kiri, dikaitkan dengan kelainan otak, seperti perubahan struktur materi putih (WM). Temuan terbaru juga menunjukkan prevalensi infark otak diam-diam, yang terjadi tanpa gejala yang nyata tetapi berkontribusi terhadap penurunan kognitif jangka panjang.

Penyakit kardiovaskular (CVD) dan faktor risiko vaskular (VRF) berkontribusi terhadap penurunan kognitif, cedera otak, dan demensia. Menangani VRF sejak dini, seperti melalui pengelolaan tekanan darah dan kolesterol, dapat membantu mengurangi risiko ini. Penelitian lebih lanjut sangat penting untuk mengungkap mekanisme kompleks dari hubungan ini dan mengembangkan pendekatan pencegahan dan pengobatan yang efektif.

Kesehatan Jantung dan Otak: Hubungan Sinergis

Jantung dan otak bekerja dalam kemitraan yang dinamis. Otak bergantung pada jantung untuk mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi yang stabil, sementara jantung bergantung pada otak untuk pengaturan melalui kontrol otonom. Interaksi dua arah ini, jika terganggu oleh penyakit, dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang signifikan.

Faktor genetik dan fenotipik sering memengaruhi kedua organ, dan kerusakan pada salah satu dapat berdampak pada yang lain. Misalnya, perubahan struktur jantung, seperti peningkatan ketebalan dinding ventrikel kiri, telah dikaitkan dengan kelainan otak, termasuk penurunan integritas WM. Kelainan ini, yang sering terdeteksi melalui pencitraan, menandakan timbulnya gangguan kognitif dini pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.

Dampak Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah terhadap Kesehatan Otak

HF merupakan kondisi kompleks di mana jantung tidak mampu memompa darah secara efisien, sehingga mengakibatkan buruknya sirkulasi dan berkurangnya oksigenasi otak.

Penelitian telah menemukan bahwa gagal jantung sering dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif, terutama pada orang dewasa yang lebih tua. Faktanya, hingga 43% pasien gagal jantung menunjukkan beberapa bentuk gangguan fungsi kognitif. Fungsi kognitif seperti memori, perhatian, dan fungsi eksekutif sering terganggu pada pasien gagal jantung. Penurunan curah jantung dan hipoperfusi serebral dianggap berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif ini, karena otak menerima lebih sedikit aliran darah dan oksigen.

Penelitian yang muncul menunjukkan bahwa hubungan antara gagal jantung dan kesehatan otak tidak hanya terbatas pada kekurangan oksigen. Misalnya, gagal jantung dikaitkan dengan peningkatan peradangan dan aktivasi neurohormonal, yang keduanya terkait dengan proses neurodegeneratif.

Selain itu, perubahan struktural pada otak, seperti hiperintensitas WM dan infark otak senyap, lebih umum terjadi pada individu dengan HF.

Fibrilasi Atrium (AF) dan Kesehatan Otak

AF merupakan aritmia jantung yang paling umum, ditandai dengan detak jantung yang tidak teratur dan sering kali cepat. AF secara signifikan meningkatkan risiko stroke, yang dapat secara langsung menyebabkan gangguan kognitif. Akan tetapi, bahkan tanpa adanya stroke, AF dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia dan bentuk penurunan kognitif lainnya. Penelitian terkini menunjukkan bahwa peningkatan risiko ini mungkin disebabkan oleh mikroemboli diam-diam, yang mengganggu aliran darah otak.

Lebih jauh lagi, AF telah dikaitkan dengan peningkatan beban lesi WM dan penanda lain penyakit pembuluh darah kecil, yang dikaitkan dengan penurunan kognitif. Proses inflamasi yang terkait dengan AF juga dapat menyebabkan kerusakan neuronal dan perkembangan kondisi neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer.

Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan Gangguan Kognitif

Penyakit jantung koroner terjadi ketika arteri yang memasok darah ke jantung menyempit atau tersumbat, sehingga menyebabkan serangan jantung dan komplikasi kardiovaskular lainnya.

Penyakit jantung koroner merupakan faktor risiko lain yang signifikan terhadap penurunan fungsi kognitif. Faktor risiko umum untuk penyakit jantung koroner, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi, juga merupakan faktor risiko untuk penyakit otak seperti stroke dan demensia. Faktor risiko ini tidak hanya mempercepat peradangan sistemik tetapi juga merusak sawar darah-otak, yang memungkinkan zat berbahaya memasuki otak dan menyebabkan kerusakan saraf.

Pada pasien dengan penyakit jantung koroner, gangguan kognitif sering kali terjadi setelah kejadian koroner akut seperti infark miokard (serangan jantung). Berkurangnya aliran darah ke otak, infark serebral yang tidak terdeteksi, dan peningkatan lesi WM adalah beberapa mekanisme yang menyebabkan penyakit jantung koroner memengaruhi kesehatan otak.

Menariknya, hubungan antara penyakit jantung koroner dan penurunan fungsi kognitif bersifat dua arah, dengan penurunan fungsi kognitif juga meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pengobatan terpadu yang menargetkan jantung dan otak dapat memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik.

Mekanisme yang Menghubungkan Penyakit Jantung dan Gangguan Kognitif

Penyakit jantung berkontribusi terhadap gangguan kognitif melalui beberapa mekanisme. Peradangan sistemik akibat kondisi kardiovaskular memicu neuroinflamasi, yang merusak sel-sel otak.

Hipoperfusi serebral, yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah, menyebabkan kerusakan WM dan penipisan kortikal. Aktivasi neurohormonal pada HF, yang melibatkan hormon seperti angiotensin II dan katekolamin, memengaruhi fungsi jantung dan proses kognitif, yang berpotensi mempercepat degenerasi otak. Selain itu, gangguan dalam kontrol otonom dapat memperburuk perkembangan gejala kognitif.

Prospek Pencegahan dan Pengobatan

Mengingat hubungan kuat antara kesehatan kardiovaskular dan fungsi kognitif, intervensi dini dan strategi pencegahan yang menargetkan kesehatan jantung mungkin memiliki efek menguntungkan pada kesehatan otak.

Pengendalian faktor risiko vaskular, seperti hipertensi, diabetes, dan hiperkolesterolemia, sangat penting dalam mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan neurodegeneratif. Intervensi multidomain, yang menggabungkan diet, olahraga, dan pelatihan kognitif, telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam menjaga fungsi kognitif.

Selain itu, perawatan untuk gagal jantung, AF, dan penyakit jantung koroner, termasuk pengobatan, perubahan gaya hidup, dan intervensi bedah, juga dapat membantu menjaga fungsi kognitif. Pendekatan pengobatan presisi da

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *