Dalam studi terkini yang diterbitkan dalam The International Journal of Obesity , para peneliti menyelidiki dampak konseling gizi yang mempromosikan diet Mediterania (MD) saat hamil terhadap kemungkinan anak yang lahir dari ibu tersebut mengalami obesitas atau kelebihan berat badan pada usia dua tahun.
Dampak pola makan ibu terhadap obesitas anak
Meningkatnya obesitas pada anak-anak telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di seluruh dunia dan, sebagai akibatnya, memerlukan penerapan strategi untuk mencegah masalah kesehatan di kemudian hari. Kehidupan awal, termasuk kehamilan, merupakan periode penting untuk mencegah obesitas, karena pola makan ibu dapat memengaruhi kesehatan anak di masa depan.
MD, yang kaya akan serat, antioksidan, dan lemak sehat, dikenal karena manfaatnya dalam mencegah kelebihan berat badan selama masa dewasa. Selama kehamilan, MD dapat melindungi anak-anak dari obesitas melalui efek potensialnya pada regulasi gen tertentu.
Namun, masih belum ada bukti yang kuat mengenai apakah mengikuti diet sehat selama kehamilan dapat mencegah kelebihan berat badan dan obesitas pada masa kanak-kanak. Meskipun beberapa studi observasional telah dilakukan, penelitian eksperimental diperlukan untuk memahami hubungan ini.
Tentang penelitian ini
Uji coba MD selama Kehamilan (PREMEDI) dirancang untuk memeriksa apakah wanita yang mengikuti MD saat hamil dapat mencegah obesitas atau kelebihan berat badan pada anak-anak mereka pada usia dua tahun. Sebanyak 104 wanita hamil secara acak ditugaskan untuk menerima perawatan standar saja atau perawatan standar sebagai tambahan konseling MD yang dipersonalisasi.
Para wanita yang dimasukkan ke dalam kelompok MD menghadiri tiga sesi konseling diet selama kehamilan. Rekomendasi MD meliputi makan lebih banyak sayur, buah, biji-bijian utuh, ikan, dan kacang-kacangan, menggunakan minyak zaitun, dan menghindari makanan olahan.
Hasil utama penelitian adalah persentase anak yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan saat berusia dua tahun. Hasil sekunder meliputi kepatuhan ibu terhadap pedoman pengobatan dan penambahan berat badan selama kehamilan.
Para peneliti juga mengukur perubahan dalam ekspresi gen, dengan fokus pada gen leptin, yang terkait dengan pengaturan berat badan. Penilaian lanjutan terhadap anak-anak dilakukan setiap beberapa bulan hingga ulang tahun kedua mereka. Analisis statistik dilakukan untuk membandingkan hasil antara kedua kelompok.
Temuan studi
Mengikuti MD selama kehamilan mengurangi kemungkinan anak-anak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada usia dua tahun. Pada kelompok MD, tidak ada anak yang mengalami obesitas, dan 6% mengalami kelebihan berat badan, dibandingkan dengan 8% dan 22% anak yang mengalami obesitas dan kelebihan berat badan pada kelompok kontrol.
Perbedaan risiko absolut, yang didefinisikan sebagai risiko rata-rata pada kelompok kontrol dikurangi risiko rata-rata pada kelompok perlakuan, adalah signifikan. Untuk tujuan ini, jumlah yang dibutuhkan untuk perawatan (NNT) adalah empat, yang menunjukkan bahwa, untuk setiap empat wanita yang mengikuti MD, satu kasus obesitas atau kelebihan berat badan pada anak dapat dicegah.
Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan serupa di kedua kelompok, menunjukkan bahwa MD tidak memengaruhi kenaikan berat badan. Anak-anak yang lahir dari ibu dalam kelompok MD memiliki berat badan lahir yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berada dalam kelompok kontrol.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa MD dikaitkan dengan metilasi yang lebih tinggi pada promotor gen leptin. Dengan demikian, MD dapat memengaruhi ekspresi gen yang terkait dengan pengaturan berat badan pada keturunan.
Kesimpulan
Temuan studi ini menyoroti pentingnya pola makan ibu dalam mencegah obesitas pada anak, karena mengikuti pola makan MD selama kehamilan tampaknya mengurangi risiko obesitas atau kelebihan berat badan pada anak-anak.
Kekuatan utama dari penelitian saat ini adalah desain eksperimental, yang memberikan bukti kuat dibandingkan dengan penelitian observasional sebelumnya dengan hasil yang beragam. Para peneliti juga mengeksplorasi mekanisme dasar yang potensial, termasuk perubahan pada gen leptin, yang dapat menjelaskan bagaimana MD memengaruhi risiko obesitas.
