Virus ensefalitis Jepang (JE), yang menyebabkan ensefalitis akut di Asia Timur dan Selatan, secara tradisional dianggap sebagai penyakit pedesaan. Kini, para peneliti telah menunjukkan bahwa babi di daerah pinggiran kota dan peternakan pedesaan terinfeksi virus pada tingkat yang sama. Temuan ini menunjukkan upaya vaksinasi harus diperluas untuk mendorong para pelancong menerima imunisasi virus JE.
JE disebabkan oleh Flavivirus dan sebagian besar ditularkan oleh nyamuk.
Babi domestik dianggap sebagai inang utama, meskipun penyakit ini menginfeksi berbagai jenis vertebrata.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 68.000 kasus manusia terjadi setiap tahunnya, dan 15.000 di antaranya — kebanyakan anak kecil — meninggal karena virus tersebut.
JE telah lama dianggap sebagai penyakit pedesaan, dengan kedekatan dengan persawahan dan peternakan babi diketahui menjadi faktor risiko penyakit tersebut.
Dalam penelitian terbaru mereka, Juliette Di Francesco, dari Institut Pasteur du Cambodge, Kamboja, dan rekan-rekannya memulai penelitian mereka berdasarkan serangkaian penelitian sebelumnya tentang virus JE oleh Pusat Penelitian Pertanian Prancis untuk Pembangunan Internasional (CIRAD). Francesco dan rekan-rekannya meneliti 15 ekor babi di peternakan pedesaan dan 15 ekor babi di peternakan pinggiran kota.
Dalam kedua kasus tersebut, mereka mengumpulkan sampel darah dari babi setiap 8 hingga 11 hari pada tahun 2015.
Setiap sampel diuji untuk keberadaan antibodi virus JE dan RNA virus JE.
Pada kedua kelompok, semua babi dinyatakan positif antibodi virus JE pada usia 6 bulan.
Kekuatan penularan serupa di kedua peternakan, dengan kekuatan 0,61 dan 0,69 per hari masing-masing di pertanian pinggiran kota dan pertanian pedesaan.
Para peneliti mendeteksi enam jenis virus JE yang berbeda pada babi.
Babi-babi tersebut terinfeksi kemudian di peternakan pedesaan, yang mungkin disebabkan oleh hilangnya antibodi induknya di kemudian hari dan karena lebih banyaknya babi di sekitar mereka.
Diperlukan penelitian lebih besar di wilayah perkotaan, pinggiran kota, dan pedesaan lainnya untuk mengonfirmasi temuan ini.
“Hasil ini menunjukkan bahwa virus ensefalitis Jepang beredar secara intensif baik di daerah pedesaan maupun daerah pinggiran kota di Kamboja,” catat para peneliti. “Hasil ini menunjukkan pentingnya mengubah rekomendasi vaksinasi bagi para pelancong dan tidak memfokuskan program imunisasi nasional terhadap ensefalitis Jepang hanya di daerah pedesaan,” kata para peneliti.
