Gen bagi banyak orang mungkin terkait erat dengan penentuan sifat dan karakteristik tertentu. Kini, sebuah penelitian menunjukkan bahwa gen juga dapat memengaruhi keterampilan motorik saraf. Hal ini dapat menghasilkan wawasan baru dalam penanganan gangguan keterampilan motorik seperti Cerebral Palsy.
Martin dan kolaboratornya dari Pusat Medis Rumah Sakit Anak Cincinnati, Yutaka Yoshida dan Zirong Gu, menemukan bahwa hilangnya fungsi dua gen mencegah tikus laboratorium bayi mengembangkan keterampilan motorik saat mereka tumbuh menjadi dewasa.
Penyebabnya adalah sirkuit saraf antara wilayah korteks motorik otak dan sumsum tulang belakang yang tidak terorganisasi dengan baik pada tikus saat mereka tumbuh dewasa.
Sirkuit ini merupakan bagian dari jaringan kortikal tulang belakang, yang mengoordinasikan pengaktifan otot-otot pada anggota tubuh.
Tikus tersebut dibiakkan untuk kekurangan sinyal molekuler dari jalur genetik Bax/Bak.
Melalui berbagai percobaan, para peneliti menunjukkan bagaimana target molekuler hilir Bax/Bak sangat penting untuk mengembangkan koneksi canggih yang tepat antara korteks motorik, sirkuit tulang belakang, dan kelompok otot ekstensor/fleksor yang berlawanan pada hewan.
“Jika mutasi pada jalur Bax/Bak ditemukan pada pasien manusia dengan cacat perkembangan motorik, temuan ini bisa sangat bersifat translasional dan mengarah pada kemungkinan aplikasi medis,” kata Yoshida, salah satu penulis utama Martin.
Martin mengatakan diyakini bahwa aktivitas saraf dan pengalaman gerakan mengatur pembentukan dan fungsi sirkuit motorik saat hewan atau manusia tumbuh dewasa.
“Kami menunjukkan bahwa jalur Bax/Bak penting untuk proses ini. Temuan ini dapat membantu kita lebih memahami mekanisme biologis yang mendasari perkembangan motorik,” catatnya.
Tujuan tim ini adalah untuk penelitian masa depan guna menentukan apakah gangguan pada jalur Bax/Bak berdampak pada beberapa orang dengan disabilitas motorik terampil dan apakah jalur ini juga mengatur reorganisasi sirkuit lain dalam sistem saraf pusat mamalia.
