Anda telah melihat iklan larut malam muncul di layar Anda. Seorang pria tua sedang berkencan dengan seorang wanita cantik di tempat yang romantis. Senyum lebar tersungging di wajahnya saat ia menatap mata wanita itu, tetapi ada sesuatu yang diam-diam mengganggunya. Dengarkan suara latar tentang disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi, yang juga dikenal sebagai DE atau impotensi, terjadi ketika seorang pria tidak mampu mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk melakukan hubungan seksual. Meskipun iklan-iklan ini mengundang lelucon dan tawa bagi kebanyakan orang, disfungsi ereksi dapat mengindikasikan masalah kesehatan yang serius.

Kemungkinan terjadinya disfungsi ereksi memang meningkat seiring bertambahnya usia (22 persen pria berusia di atas 60 tahun dan 30 persen pria berusia di atas 70 tahun menderita impotensi), tetapi hal itu bukan merupakan bagian yang tak terelakkan dari bertambahnya usia. Sebaliknya, penyebabnya lebih mungkin terkait dengan kondisi fisik atau psikologis yang mendasarinya.

1. Kondisi Medis

Kondisi medis yang serius, seperti penyakit jantung, bisa jadi merupakan asal mula disfungsi ereksi Anda. Faktanya, penyebab penyakit jantung dan disfungsi ereksi sangat mirip. Gejala DE mungkin terjadi lebih awal daripada gejala penyakit jantung karena masalah kardiovaskular seperti aterosklerosis. Aterosklerosis, penyempitan pembuluh darah di seluruh bagian tubuh, diyakini sebagai penyebab paling umum dari disfungsi ereksi dan tanda peringatan serangan jantung atau stroke di masa mendatang. Kondisi medis lain yang membuat pria berisiko mengalami disfungsi ereksi adalah diabetes, penyakit ginjal kronis, multiple sclerosis, dan penyakit Peyronie.

2. Obat-obatan

Apakah Anda mengonsumsi obat resep atau obat bebas secara rutin? Obat-obatan tertentu dapat menyulitkan Anda untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi, seperti antidepresan, antihistamin, atau obat tekanan darah. Meskipun obat-obatan ini dapat mengobati suatu kondisi, obat-obatan ini juga dapat memengaruhi hormon, saraf, atau sirkulasi darah, yang semuanya dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi. Jika Anda merasa DE Anda mungkin disebabkan oleh suatu obat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda.

3. Gangguan Emosional

Apakah Anda pernah bertengkar dengan pasangan? Masalah hubungan yang menyebabkan stres dapat menyebabkan pertengkaran di ranjang. Depresi, kecemasan, harga diri rendah, rasa bersalah, dan ketakutan akan kegagalan seksual merupakan faktor-faktor lain yang berkontribusi.

4. Pilihan Gaya Hidup

Membuat keputusan yang buruk tentang kesehatan setiap hari dapat memengaruhi kemampuan Anda untuk ereksi. Pria yang kelebihan berat badan, perokok berat, pecandu alkohol, atau pecandu zat lebih rentan mengalami disfungsi ereksi. Mengonsumsi makanan yang kaya flavonoid, seperti blueberry, membantu mengurangi risiko disfungsi ereksi. Peningkatan asupan flavonoid juga membantu pria mengurangi kebiasaan merokok, minum alkohol, dan berolahraga lebih banyak.

5. Cedera Fisik

Meskipun olahraga sangat baik untuk kesehatan Anda, berhati-hatilah terhadap aktivitas fisik apa pun yang dapat melukai bagian bawah tubuh Anda, karena cedera pada area tubuh ini dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Dengan semakin populernya bersepeda, para pria telah menyatakan kekhawatiran tentang apakah olahraga ini berkontribusi terhadap DE. Sebuah studi terkini yang diterbitkan dalam Journal of Men’s Health menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara bersepeda dalam waktu lama dan disfungsi ereksi.

Dengan 30 juta orang Amerika saat ini menderita disfungsi ereksi, jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 320 juta di seluruh dunia pada tahun 2025, penting untuk aktif dalam perawatan kesehatan Anda. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda jika Anda mengalami impotensi dan sampaikan kekhawatiran Anda tentang penyebab yang mendasarinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *