Menjelajahi model tikus untuk mempelajari regresi fibrosis hati

fibrosis hati

Fibrosis hati adalah kondisi progresif dan berpotensi reversibel yang diakibatkan oleh kerusakan hati kronis, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penyakit hati steatotik terkait disfungsi metabolik (MASLD), penyalahgunaan alkohol, dan hepatitis virus. MASLD memengaruhi sebagian besar populasi global dan dapat berkembang menjadi steatohepatitis terkait disfungsi metabolik (MASH), yang menyebabkan sirosis hati jika tidak diobati. Mengingat prevalensi MASLD dan kondisi terkaitnya, studi tentang fibrosis dan regresinya menjadi penting untuk mengembangkan intervensi terapeutik. Tinjauan ini memberikan pemeriksaan terperinci terhadap model tikus percobaan yang digunakan untuk mempelajari regresi fibrosis hati, baik secara in vivo maupun ex vivo, yang menyoroti relevansi, kelebihan, dan keterbatasannya.

Fibrosis hati dan fibrogenesis

Fibrogenesis adalah respons penyembuhan luka terhadap kerusakan hati yang berkelanjutan, yang ditandai dengan pengendapan matriks ekstraseluler (ECM) oleh sel stellate hati (HSC) dan miofibroblast yang teraktivasi. Berbagai rangsangan, termasuk kelebihan lipid dan paparan toksin, dapat menyebabkan fibrosis. Proses molekuler yang mendasari fibrosis bersifat kompleks, tetapi peradangan yang didorong oleh spesies oksigen reaktif memainkan peran penting. Yang terpenting, fibrosis bukanlah proses statis; fibrosis dapat dibalikkan dalam kondisi tertentu, karena respons peradangan mereda dan degradasi ECM terjadi. Memahami dinamika ini sangat penting untuk mengembangkan perawatan yang mendorong regresi fibrosis.

Model tikus untuk mempelajari fibrosis hati

Model tikus menyediakan platform yang berharga untuk mempelajari fibrosis hati, terutama dalam konteks MASLD manusia. Tinjauan ini mengkategorikan model berdasarkan metode induksi fibrosis, seperti model yang diinduksi oleh diet (misalnya, diet tinggi lemak), model genetik, model yang diinduksi oleh hepatotoksin, dan model yang menggunakan atresia bilier atau infeksi parasit. Model-model ini bervariasi dalam kemampuannya untuk mereplikasi fibrosis hati manusia dan regresi, masing-masing dengan kelebihan dan keterbatasan yang berbeda.

Misalnya, sementara tikus tipe liar C57BL/6 yang diberi diet tinggi lemak (HFD) mengalami fibrosis ringan, modifikasi genetik (misalnya, tikus yang tidak lagi memiliki reseptor LDL) dan diet yang ditingkatkan dapat mempercepat perkembangan fibrosis. Sementara itu, model yang diinduksi hepatotoksin menggunakan zat seperti karbon tetraklorida (CCl4) memberikan induksi fibrosis yang cepat tetapi tidak sepenuhnya mereplikasi gangguan metabolisme yang terlihat pada manusia. Meskipun ada tantangan ini, model ini berperan penting dalam mempelajari regresi fibrosis setelah penghilangan rangsangan pemicu fibrosis.

Fibrosis hati reversibel pada model tikus

Salah satu area fokus penting dalam tinjauan ini adalah fibrosis reversibel. Beberapa model tikus menunjukkan regresi fibrosis setelah penghilangan agen penyebab atau melalui intervensi terapeutik. Tinjauan ini menyoroti berbagai metode untuk menginduksi fibrosis reversibel, termasuk penarikan CCl4, modifikasi pola makan, dan teknik pemulihan genetik. Sementara beberapa model menunjukkan regresi yang hampir lengkap, yang lain menunjukkan resolusi fibrosis yang bervariasi atau tidak lengkap, yang sering kali mencerminkan variabilitas klinis yang terlihat pada pasien manusia.

Misalnya, pada model yang diinduksi CCl4, regresi fibrosis dapat hampir tuntas setelah empat hingga delapan minggu penghentian CCl4, tergantung pada jenis tikus yang digunakan. Sebaliknya, model yang melibatkan fibrosis yang diinduksi oleh diet sering kali menunjukkan regresi parsial, yang menyoroti kesulitan dalam membalikkan kerusakan hati yang disebabkan oleh disfungsi metabolik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *